Ahbabul Musthofa Purwodadi->Grobogan Bersholawat
Tampilkan postingan dengan label AM Purwodadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AM Purwodadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

Hukum Minyak WAngi Berkadar Alkohol

Minyak WAngi Ber Kadar Alkohol
Soal: 
Apa hukumnya menggunakan minyak wangi (parfum) berkadar alkalone atau alkohol?
 

Jawab :
Alhamdulillah, parfum-parfum yang katanya mengandung alkalone atau alkohol harus kita perinci pembahasannya sebagai berikut:
-Jika kadar alkoholnya sedikit dan tidak membahayakan maka silakan ia memakainya tanpa harus ragu. Misalnya kadar alkoholnya sekitar lima persen atau kurang dari itu, kadar sekian persen itu tentu tidak menimbulkna efek membahayakan.
-Jika kadar alkoholnya tinggi sehingga dapat menimbulkan efek samping terhadap pemakainya, maka yang paling baik adalah tidak menggunakannya kecuali untuk keperluan sangat mendesak, seperti untuk mensterilkan luka dan sejenisnya. Tidak juga kita katakan haram, namun lebih baik tidak menggunakannya bila tidak ada keperluan yang mendesak. Sebab kadar alkohol tinggi tersebut dapat kita simpulkan bahwa ia tergolong zat yang memabukkan. Zat-zat yang memabukkan tentunya haram berdasarkan nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijma'. Akan tetapi masalahnya apakah penggunaannya -selain meminumnya- menjadi halal? Inilah yang perlu dibahas lebih lanjut. Yang pasti tidak menggunakannya tentu lebih selamat. Saya katakan tadi bahwa masalah ini perlu dibahas lagi karena Allah telah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. 5:90-91)
Kalau kita tinjau kandungan umum kalimat 'ijtanibuuhu' (maka jauhilah) dalam ayat di atas maka penggunaannya dilarang secara mutlak, kita katakan: Khamar harus dijauhi secara mutlak, baik meminumnya atau menggunakannya sebagai minyak wangi dan semacamnya. Jika kita tinjau alasan pelarangannya, yakni firman Allah :
'Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)'
maka kita katakan bahwa yang dilarang adalah meminumnya. Sebab sekedar menggunakannya sebagai minyak wangi tidaklah sampai memabukkan.
Kesimpulannya: Jika kadar alkohol yang terdapat pada parfum tersebut sedikit maka boleh saja digunakan tanpa harus ragu dan tanpa harus dipersoalkan lagi. Namun jika kadar alkoholnya tinggi maka yang terbaik adalah tidak menggunakannya kecuali untuk suatu keperluan yang mendesak. Seperti untuk mensterilkan luka dan sejenisnya.

Keutama'an Puasa Enam HAri Di Bulan Syawal

Keutama'an Puasa Enam HAri Di Bulan Syawal
Soal:
Apa hukumnya puasa enam hari bulan Syawal, apakah wajib?

Jawab:
Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."
Dalam sebuah riwayat berbunyi:
"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."
(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."
Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.
Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud
Wallahu a'lam.

Riwayat Panjang Dalam BerdiriNya Ka'bah Dalam Perjalanan Islam

KA'BAH
MAKKAH (Berita SuaraMedia) - Ka'bah berkali-kali rusak sehingga harus berkali-kali dibongkar sebelum dibangun kembali. Di Museum Haramain, benda-benda itu disimpan.
Ada kotak tempat menyimpan parfum yang dulu pernah mengisi ruangan Ka'bah. "Ruang Ka'bah isinya hanya tiga pilar dan kotak parfum itu,'' ujar Abdul Rahman, menunjuk pilar-pilar dan kotak yang letaknya berjauhan.

Petugas Museum Haramain di Ummul Joud, Makkah, itu mengantar kami keliling melihat koleksi museum. Museum ini menyimpan benda-benda dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ada potongan pilar Ka'bah yang bentuknya sudah seperti kayu fosil berwarna cokelat tua, disimpan bersama kunci pintu Ka'bah dari kayu, juga berwarna cokelat tua. Pintu Ka'bah selalu dikunci dan pemegang kunci sudah turun-temurun dari satu keluarga, sejak sebelum Nabi lahir.

Tangga kuno yang pernah dipakai untuk masuk Ka'bah juga tersimpan di museum ini. Tersimpan pula pelapis Hajar Aswad serta pelapis dan pelindung Maqam Ibrahim. Jika orang-orang berebut mencium pelindung Maqam Ibrahim, seharusnya yang layak dicium adalah yang tersimpan di museum ini karena usianya lebih tua dari pelindung yang sekarang dipasang.
Namun, tak ada anjuran mencium Maqam Ibrahim. Nabi hanya memberi contoh mencium Hajar Aswad.

Kotak parfum Ka'bah yang disimpan di museum ini juga berwarna cokelat tua. Sewaktu masih difungsikan di dalam Ka'bah, botol-botol parfum yang dipakai untuk mengharumkan ruangan Ka'bah disimpan di kotak itu.

Riwayat Ka'bah

Ka'bah  awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat terjadi banjir Nabi Nuh, Ka'bah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali. Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad.

Ka'bah yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq. Ka'bah dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Ka'bah juga mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibuat berdaun dua dan dikunci.

Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka'bah selepas Nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, tinggi Ka'bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada masa Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada tempat semestinya.

Dari masa Nabi Ibrahim hingga ke bangsa Quraisy terhitung ada 2.645 tahun. Pada masa Quraisy, ada perempuan yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah. Kiswah Ka'bah pun terbakar karenanya sehingga juga merusak bangunan Ka'bah. Kemudian, terjadi pula banjir yang juga menambah kerusakan Ka'bah. Peristiwa kebakaran ini yang diduga membuat warna Hajar Aswad yang semula putih permukaannya menjadi hitam.

Untuk membangun kembali Ka'bah, bangsa Quraisy membeli kayu bekas kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal milik bangsa Rum. Kayu kapal itu kemudian digunakan untuk atap Ka'bah dan tiga pilar Ka'bah. Pilar Ka'bah dari kayu kapal ini tercatat dipakai hingga 65 H. Potongan pilarnya tersimpan juga di museum.

Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka'bah juga terbakar. Kejadiannya saat tentara dari Syam menyerbu Makkah pada 681 Masehi, yaitu di masa penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang berarti juga keponakan Aisyah.

Kebakaran pada masa ini mengakibatkan Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.

Untuk membangun kembali, seperti masa-masa sebelumnya, Ka'bah diruntuhkan terlebih dulu. Abdullah AzZubair membangun Ka'bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu lagi dekat sudut Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi penahan perak. Yang terpasang sekarang adalah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, dan ambar.
Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir.

Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahukan bahwa Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka'bah dan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunan Ka'bah.

Hajjaj ingin mengembalikan Ka'bah seperti di masa Quraisy; satu pintu dan Hijir Ismail berada di luar bangunan Ka'bah. Maka, oleh Hajjaj, pintu kedua--yang berada di sebelah barat dekat Rukun Yamani--ditutup kembali dan Hijir Ismail dikembalikan seperti semula, yakni berada di luar bangunan Ka'bah.

Akan tetapi, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal setelah mengetahui Ka'bah di masa Abdullah bin AzZubair dibangun berdasarkan hadis riwayat Aisyah. Di masa berikutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid hendak mengembalikan bangunan Ka'bah serupa dengan yang dibangun Abdullah bin Az-Zubair karena sesuai dengan keinginan Nabi.
Namun, Imam Malik menasihatinya agar tidak menjadikan Ka'bah sebagai bangunan yang selalu diubah sesuai kehendak setiap pemimpin. Jika itu terjadi, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati kaum Mukmin.

Pada 1630 Masehi, Ka'bah rusak akibat diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai bangunan Hajjaj bin Yusuf hingga bertahan 400 tahun lamanya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang memulai proyek pertama pelebaran Masjidil Haram.

Replika mushaf di Museum ini tersimpan pula replika Quran mushaf Usmani yang bacaannya, susunan surah dan ayatnya, serta jumlah surah dan ayatnya dipakai sebagai panduan hingga sekarang. Yang berbeda cuma bentuk hurufnya.

Pada masa Khalifah Usman bin Affan (35 H) dibuatlah standardisasi penulisan Quran. Di masa itu, sahabatsahabat Nabi memiliki mushaf yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan surah dan ayat, maupun jumlah surah dan ayat.

Mushaf yang dimiliki Ibnu Mas'ud, misalnya, tidak menyertakan Surat AlFatihah dan susunan surat yang berbeda. Surah keenam bukanlah Surah Al-An'am, melainkan Surah Yunus.

Quran Ali bin Abi Thalib juga tak memiliki Surah Al-Fatihah. Ali juga tak memasukkan surah ke-13, 34, 66, dan 96 ke mushafnya. "Ukuran mushaf Usman yang asli berbeda dari yang ini. Ini hanya duplikat,'' ujar Abdul Rahman. (republika)

4 Kekeliruan Menyambut Bulan Muharam

4 Kekeliruan Menyambut Bulan Muharam
Kaum Muslimin mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw di bulan Muharram. Apa hukum perayaan bulan Muharam?

***
Assalamu’alaikum. Ustad, biasanya setiap Muharram di berbagai tempat diperingati perayaan. Ada yang mengadakan pengajian atau menggelar serangkaian acara. Bahkan di beberapa tempat, kaum Syiah menggelar peringatan peristiwa Karbala. 
Sebebarnya, bagaimana sikap Islam dalam menyambut bulan Muharram in?
Sekian, terima kasih. [Ahmad] 
***
Oleh Dr. Ahmad Zain An-Najah, M.A 
Bulan Muharam adalah bulan yang muliah. Namun demikian, tak banyak kaum Muslim yang tau bagaimana memperlakukannya. Bahkan lebih banyak salah memahaminya. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dalam masalah Bulan Muharam.
Pertama, Bulan Muharram Adalah Bulan Yang Mulia
Bulan Muharram adalah bulan yang mulia, hal itu dikarenakan beberapa hal:
1. Bulan ini dinamakan Allah dengan “ Syahrullah “, yaitu bulan Allah. Penisbatan sesuatu kepada Allah mengandung makna yang mulia, seperti “ Baitullah “ ( rumah Allah ), “Saifullah” ( pedang Allah ), “ Jundullah” ( tentara Allah) dan lain-lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak dimilili oleh bulan-bulan yang lain.
2. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagi bulan haram, sebagaimana firman Allah swt :
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah :36).
Dalam hadis Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Bulan ini dijadikan awal bulan dari Tahun Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. Tahun Hijriyah ini dijadikan momentum atas peristiwa hijrah nabi Muhammad saw.
Kedua, Pada Bulan ini Disunnahkan Untuk Berpuasa
Bulan Muharram adalah bulan yang disunnahkan di dalamnya untuk berpuasa, bahkan merupakan puasa yang paling utama sesudah puasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Hurairah ra, di atas. Hadist di atas menunjukkan bahwa Rasulullah saw menganjurkan kaum Muslimin untuk melakukan puasa sebanyak-banyaknya pada bulan Muharram. Tetapi tidak dianjurkan puasa satu bulan penuh, hal itu berdasarkan hadist Aisyah ra, bahwasanya ia berkata : “Saya tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau berpuasa paling banyak pada suatu bulan, kecuali bulan Sya’ban. “( HR Muslim )
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Rasulullah saw menyebutkan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling mulia sesudah Ramadhan, padahal beliau sendiri lebih banyak melakukan puasa pada bulan Sya’ban dan bukan pada bulan Muharram ? Jawabannya : Para ulama memberikan beberapa alasan, diantaranya bahwa Rasulullah saw belum mengetahui keutamaan bulan Muharram kecuali pada detik-detik terakhir kehidupan beliau, sehingga belum sempat untuk berpuasa sebanyak-banyaknya, atau mungkin adanya udzur syar’I yang menghalangi beliau untuk memperbanyak puasa pada bulan tersebut, seperti banyak melakukan perjalan jauh (safar) atau udzur-udzur yang lain.
Puasa bulan Muharram ini berdasarkan hadist di atas adalah puasa yang paling utama dalam sesudah Ramadhan dalam satu bulan. Sedangkan puasa Arafah adalah puasa yang paling utama sesudah Ramadhan bila dilihat dari sisi hari.
عن أبي هريرة t قال : قال رسول الله r : ( أفضلُ الصيام بعد رمضان شهرُ الله المحرم ، وأفضلُ الصلاة بعد الفريضة صلاةُ الليل )
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim)
Ketiga, Bulan Muharram terhadap Hari Asyura’
Hari Asyura’ artinya hari kesepuluh dari bulan Muharram. Pada hari itu dianjurkan untuk berpuasa, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Ibnu Abbas ra berkata : “ Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka beliau bertanya : "Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ . Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa.”(HR Bukhari dan Muslim)
Bagaimana cara berpuasa pada hari Asyura ? Menurut keterangan para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, maka puasa Asyura bisa dilakukan dengan empat pilihan : berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram atau berpuasa pada tanggal 9,10, dan 11 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, tetapi yang terakhir ini, sebagian ulama memakruhkannya, karena menyerupai puasanya orang-orang Yahudi.
Cara berpuasa di atas berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata : Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum Muslimin berpuasa, para shahabat berkata : "Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.“ (H.R. Bukhari dan Muslim).
Begitu juga hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyura’, dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ ( HR Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ) Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan : “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.“
Apa keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini ? Keutamaannya adalah barang siapa yang puasa dengan ikhlas pada hari Asyura’ tersebut, niscaya Allah swt akan menghapus dosa-dosanya yang telah dikerjakan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Qatadah ra, bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyura’, maka Rasulullah saw menjawab : “ Saya berharap dari Allah swt agar menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya. “ ( HR Muslim )
Dosa-dosa yang dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, maka seorang Muslim harus bertaubat dengan taubat nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah swt.
Adapun hikmah puasa Asyura’ adalah sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya nabi Musa as dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas di atas.
Keempat, Kekeliruan dalam menghadapi Bulan Muharram
Di dalam menghadapi Tahun Baru Hijriyah, sebagian kaum Muslimin mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, maka hendaknya kekeliruan tersebut bisa dihindarkan dari kita. Diantara kekeliruan tersebut adalah :
1. Menjadikan tanggal 1 bulan Muharram sebagai hari raya kaum Muslimin, mereka merayakannya dengan cara saling berkunjung satu dengan yang lainnya, atau saling memberikan hadiah satu dengan yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka mengadakan sholat tahajud dan doa’-do’a khusus pada malam tahun baru.  Padahal dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Hal itu sesuai dengan hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata : “Rasulullah saw datang ke kota Madinah, pada waktu itu penduduk Madinah merayakan dua hari tertentu, maka Rasulullah saw bertanya: Dua hari ini apa ? Mereka menjawab: “Ini adalah dua hari, dimana kami pernah merayakannya pada masa Jahiliyah. Maka Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dengan yan lebih baik: yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai )
Begitu juga, merayakan tahun baru adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kaum Muslimin diperintahkan untuk menjauhi dari kebiasaan tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Musa Al Asy’ari bahwasanya ia berkata : “Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”
2. Menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi hari berkabung, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah. Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Bahkan sejak Syah Ismail Safawi menguasai wilayah Iran, dia telah mengumumkan bahwa hari berkabung nasional berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada tanggal 10 hari pertama bulan Muharram. Ritual meratapai kematian Husen ini dilakukan dengan memukul tangan-tangan mereka ke dada, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyabet badan mereka dengan pisau dan pedang hingga keluar darahnya, dan sebagian yang lain melukai badan mereka dengan rantai.
3. Menjadikan malam 1 Muharram untuk memburu berkah dengan berbondong-bondong menuju kota Solo dan menyaksikan ritual kirab dan pelepasan kerbau bule, yang kemudian mereka berebut mengambil kotorannya, yang menurut keyakinan mereka bisa menyebabkan larisnya dagangan dan membawa berkah di dalam kehidupan mereka. Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan syirik dan bid’ah dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.

Senin, 07 Maret 2011

HAUL AL HABIB 'ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI (SHOHIBUL SIMTHUD DUROR)

Simtutduror
HAUL AL HABIB 'ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI (SHOHIBUL SIMTHUD DUROR)

Waktu : 26 Maret jam 9:00 - 27 Maret jam 11:00

Tempat :MASJID "RIYADH" GURAWAN PASAR KLIWON SOLO JAWA TENGAH INDONESIA
JL. SOLO - WONOGIRI
Surakarta, Indonesia
 
Info Lengkap  : SEKILAS MENGENAL BIOGRAFI:
AL-HABIB 'ALI BIN MUHAMMAD BIN HUSAIN AL-HABSYI.
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi
(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud durar yang diambil dari situs alawiyin).
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan da...n pengawa...san kedua orang tuanya: ayahandanya Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu dzahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, beliau menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid "Riyadh" di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu: Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta). Beliau dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simthud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama, Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

LINK:
http://www.facebook.com/majlis.AHBAABULMUSTHOFA.pusat,
http://www.facebook.com/SYEKHERMANIA.PUSAT,
http://tinyurl.com/AHBAABUL-MUSTHOFA-PUSAT

Habib Ali Bin Muhamad Al Habsyi

Habib Ali Bin Muhamad Al Habsyi
Habib Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jumaat 24 Syawal 1259H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut Yaman. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepimpinan tiap majelis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu. Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari. Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya – di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bongsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid “Riyadh” di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabiulawal 1373H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya. Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya). Habib Ali Al-Habsyi meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabiulakhir 1333H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama. Dipetik dari: Untaian Mutiara – Terjemahan Simtud Duror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi Jika riwayat hidup kaum arifin dibacakan kepada orang yang beriman,maka imannya kepada Allah akan semakin kokoh. Sebab,kehidupan mereka merupakan cerminan dari kitabullah yang didalamnya terkandung ilmu orang – orang terdahulu dan yang datang kemudian,atau refleksi dari Hadist Rosulullah SAW ,atau dari pengetahuan yang ia terima langsung dari Nabi SAW (Habib alu bin Muhammad Al Habsy)

Kamis, 03 Maret 2011

K.H.Maimoen Zubair
Tanggal lahir Syaikhuna yang selama ini diyakini bertepatan dengan 28 Oktober 1928 ternyata memiliki kejanggalan. Kejanggalan itu terjadi ketika dikonversi ke penanggalan Hijriyah yang ternyata jatuh pada bulan Jumadal Ula. Padahal, seperti disampaikan sendiri oleh Syaikhuna, beliau lahir pada bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadhan. Kejanggalan juga terjadi berkaitan dengan wethon. Sebab, 28 Oktober 1928 jatuh pada hari Minggu Wage, sementara Syaikhuna menyebutkan, lahir pada hari Kamis Legi.

Setelah hal ini saya konfirmasikan kepada Syaikhuna sendiri, saya mendapat jawaban bahwa menurut beliau tanggal 28 Oktober 1928 hanyalah perkiraan. Justru beliau yakin bahwa beliau lahir pada Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 atau 1348.

Berdasarkan penghitungan falak, Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 jatuh pada tanggal 27 bertepatan dengan 7 Pebruari 1929. Dan Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1348 jatuh pada tanggal 23 bertepatan dengan 23 Januari 1930. Dengan mempertimbangkan 28 Oktober 1928 sebagai perkiraan, maka bisa disimpulkan tanggal lahir Syaikhuna adalah 27 Sya’ban 1347 H. bertepaatan dengan 7 Pebruari 1929 M., karena tanggal inilah yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928.

Kejanggalan 28 Oktober 1928

Di buku-buku memori siswa Ghozaliyah dan Muhadloroh Al-Anwar, tanggal lahir Syaikhuna tertulis 28-Oktober-1928. Biografi yang ditulis oleh saudara Noor Amin Sa’dullah juga menyebutkan 28-Oktober-1928 sebagai tanggal kelahiran Syaikhuna. Di berbagai biografi yang pernah saya baca, tanggal lahir Syaikhuna juga disebutkan 28-Oktober-1928 yang bertepatan dengan hari sumpah pemuda. Demikian pula biografi yang ditulis KH Muhammad Najih Maemoen menyebutkan hari sumpah pemuda sebagai hari kelahiran Syaikhuna. Dan tanggal inilah yang selama ini diyakini banyak orang sebagai hari kelahiran Syaikhuna.

Pada acara haul Mbah Zubair tahun 1428 lalu, seperti biasa teman teman alumni yang datang, termasuk saya, sowan ke Syaikhuna. Saat itu Syaikhuna sempat ngendikan bahwa beliau lahir bulan Sya’ban menjelang Puasa. Beliau tidak menyebutkan, tanggal berapa tepatnya, tetapi yang jelas sudah mendekati bulan Ramadhan. Beliau hanya memastikan bahwa wetonnya adalah Kamis Legi.

Saya juga menemukan informasi yang sama dalam biografi yang ditulis KH Najih Maimoen. Di situ disebutkan bahwa Syaikhuna lahir di Karangmangu Sarang Rembang pada hari Kamis bulan Sya’ban 1428 H. bertepatan dengan 28 Oktober 1928 M.

Saya penasaran dengan informasi terbaru ini. Begitu pulang ke rumah saya coba otak-atik hari “Sumpah Pemuda” dan Kamis Legi bulan Sya’ban dengan menggunakan hisab ephimeris dengan markaz atau epoch Semarang. Hasil pertama yang saya temukan adalah bahwa tanggal 28 Oktober 1928 M. bertepatan dengan Minggu Wage 14 Jumadal Ula 1347 H. Hasil yang tidak menggembirakan tentunya. Sebab, ternyata hari Sumpah Pemuda tidak bertepatan dengan bulan Sya’ban juga tidak jatuh pada hari Kamis Legi.

Sekarang saya menggunakan asumsi kedua, yaitu penanggalan Hijriyah. Saya coba mencari awal Ramadlan yang berada pada tahun 1928, untuk mengkompromikan antara qaul Sya’ban menjelang Ramadhan dari sisi Hijriyah dengan qaul 28 Oktober 1928 dari sisi Masehi. Dan hasilnya, awal Ramadhan 1346 adalah satu-satunya Ramadlan yang berada pada tahun 1928, tepatnya jatuh pada Kamis Legi 23 Pebruari 1928 dengan hitungan istikmal. Ini juga hasil yang tidak memuaskan. Sebab dengan demikian Kamis Legi bulan Sya’ban tidak ada kena-mengenanya dengan 28 Oktober 1928.

Dengan hasil penghitungan di atas maka hanya ada dua kemungkinan: berpatokan dengan penanggalan Masehi dengan mengabaikan informasi Kamis Legi Sya’ban atau berpatokan pada penanggalan Hijriyah dengan mengabaikan hari Sumpah Pemuda. Sebab 28 Oktober 1928 berada di bulan Jumadal Ula yang berarti jauh dari bulan Sya’ban, dan Sya’ban yang berada di tahun 1928 jatuh pada bulan Pebruari yang berarti jauh dari Oktober.

Kamis Legi Sya’ban 1347 atau 1348

Jalan satu-satunya untuk mengurai kejanggalan di atas adalah bertanya langsung kepada sumber aslinya. Pada hari Rabu 28 Juli 2008 selepas jama’ah Maghrib Al-Anwar saya berkesempatan menghadap Syaikhuna dalam suasana yang kondusif untuk bertanya panjang lebar. Saat itu hanya ada saya, Abdul Aziz, menantu Almaghfurlah Pak Thoyfoer, dan temannya.

Saya bertanya, “Ingkang kawulo mireng, panjenengan lahir tanggal 28 Oktober 1928. Nopo leres mekaten?”.

“iku lha’ mung kiro-kiro, heh”, jawab Syaikhuna.

Sebelum sempat bertanya lebih jauh, kami bertiga dipersilahkan makan. Dan selama di meja makan pembicaraan beralih ke topik lain.

Setelah kembali ke ruang tamu, saya tidak langsung melanjutkan wawancara, karena tampaknya Abdul Aziz perlu menyelesaikan maksud sowannya. Beberapa menit kemudian, baru saya meminta ijin untuk bertanya lagi.

“Nopo leres jenengan lahir teng wulan Sya’ban, Yai”, tanya saya.

“iyo bener”, Jawab Syaikhuna pendek.

“tahune 47 utowo 48, aku lali”, sambung Syaikhuna.

Saya keluarkan pena dan kertas yang memang sudah saya persiapkan, kemudian mencatat hasil wawancara. Saya kembali bertanya, “wetonipun Kemis Legi, leres mekaten, Yai”.

Sambil tersenyum Syaikhuna balik bertanya, “Arep mbok kapakno?”.

“Mboten, Yai. Namung bade nyerat biografinipun panjenenagan”, jawabku singkat.

“iyo Kemis Legi”, demikian akhirnya Syaikhuna menegaskan wetonnya.

Dari wawancara itu saya mendapatkan beberapa fakta penting langsung dari sumber aslinya sbb :

1. Syaikhuna yakin, lahir pada bulan Sya’ban
2. Syaikhuna yakin, lahir pada hari Kamis Legi
3. Syaikhuna yakin, tahun kelahirannya adalah 1347 atau 1348 H.
4. Syaikhuna yakin bahwa tanggal lahir 28 Oktober 1928 hanyalah perkiraan dan bukan kepastian.

Dari keempat fakta diatas, dua fakta pertama merupakan kepastian hari dan bulan, sekaligus kata kunci yang dapat menentukan kepastian tanggal. Sebab Kamis Legi merupakan siklus 35 hari. Berarti dalam satu bulan tidak mungkin terjadi dua Kamis Legi. Bahkan, belum tentu setiap bulan memiliki hari Kamis Legi. Dengan demikian, tanggal kelahiran Syaikhuna adalah tanggal yang jatuh pada Kamis Legi di bulan Sya’ban.

Kemudian fakta ketiga dan keempat adalah petunjuk yang dapat menentukan tahun. Fakta ketiga memberikan dua alternatif tahun, yaitu 1347 dan 1348. Dan fakta keempat adalah perkiraan tanggal yang menggunkan sebuah moment besar sebagai ancer-ancer. Dalam tradisi jawa moment besar biasa digunakan sebagai ancer-ancer hari kelahiran. Misalnya, orang yang lahir satu atau dua bulan setelah Gestapu dikatakan lahir saat Gestapu. Dengan berpegang pada fakta keempat bahwa hari Sumpah Pemuda hanyalah perkiraan, maka fakta keempat adalah ancer-ancer untuk menentukan, apakah Syaikhuna lahir di tahun 1347 atau 1348.

Berdasarkan penjelasan di atas saya merumuskan kerangka dasar untuk menentukan tanggal lahir syaikhuna sbb: Syaikhuna lahir pada tanggal yang bertepatan dengan hari Kamis Legi di bulan Sya’ban pada tahun antara 1347 atau 1348 Hijriyah yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928 Masehi.

Untuk mengimplementasikan kerangka dasar tersebut, pertama-tama saya akan menetapkan, kapan bulan Sya’ban 1347 terjadi. Kemudian saya akan mencari, jatuh pada tanggal berapakah hari Kamis Legi bulan tersebut. Langkah yang sama akan saya lakukan untuk mencari Sya’ban tahun 1348. Jika Sya’ban 1347 dan 1348 sama-sama memiliki hari Kamis Legi, maka saya akan memilih tahun yang lebih dekat dengan tanggal 28 Oktober 1928 M. Dan jika hanya salah satu yang memiliki hari Kamis Legi, maka tahun itulah yang saya tetapkan sebagai tahun kelahiran Syaikhuna.

Perlu dicatat bahwa dalam menetapkan awal bulan Sya’ban saya menggunakan metode Hisab Ephimeris dengan markaz atau epoch Sarang yaitu: 6° 44' LS dan 111° 36', serta batas minimal imakanur ru’yah 2°. Pilihan terhadap metode hisab semata mata karena metode inilah yang mungkin saya gunakan. Sebab saya tidak menemukan dokumentasi ru’yah untuk bulan Sya’ban 1347 ataupun 1348. Dan dalam hal ini, perbedaan ru’yah dan hisab hanya mempengaruhi penetapan tanggal hijriyah saja.

Menurut hasil penghitungan saya, bulan Sya’ban 1347 jatuh pada Sabtu Kliwon, 12 Januari 1929. dan Kamis Legi yang ada dalam bulan tersebut jatuh pada tanggal 27 bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1929.

Untuk tahun 1348, awal bulan Sya’ban jatuh pada Rabo Wage, 1 Januari 1930. Dan hari Kamis Legi di bulan tersebut jatuh pada tanggal 23 bertepatan dengan 23 Januari 1930.

Dengan demikian baik tahun 1347 maupun 1348 sama-sama memiliki Kamis Legi yang jatuh pada bulan Sya’ban, yaitu:

* Kamis Legi 27 Sya’ban 1347 H. bertepatan dengan 7 Pebruari 1929
* Kamis Legi 23 Sya’ban 1348 H. bertepatan dengan 23 Januari 1930

Dari kedua Kamis Legi Sya’ban di atas, yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928 adalah Kamis Legi Sya’ban tahun 1347. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa tanggal lahir Syaikhuna adalah 27 Sya’ban 1347 H. bertepaatan dengan 7 Pebruari 1929 M.


Istri dan Putra-Putri Syaikhuna
Print this page Generate PDF

Anak dalam keluarga adalah anugrah terbesar yang merupakan cikal bakal masyarakat dan generasi penerus. Dan memberikan ma’na bahwa masyarakat dan generasi yang baik hanya akan terwujud bila setiap keluarga lebih mengedepankan nilai dan tatanan kebaikan dalam keseharian. Menjadikan mereka berilmu tinggi, berwawasan luas, berakhlaq mulia dan tak kalah pentingnya adalah lantunan do’a yang selalu diharapkan pada saat orang tua telah berada di alam barzah.

Senada dengan itu, KH. Maimoen Zubeir dalam mendidik putra-putrinya selalu mngedepankan pendidikan dan budi pekerti luhur yang keduanya menjadi pondasi utama dalam mengarungi kehidupan menuju kebahagiaan abadi. Tak lupa juga do’a untuk mereka, beliau berharap agar semuanya menjadi anak sholeh sholihah. Dan kiranya Alloh SWT mengabulkan harapan beliau yang dimunajatkan dengan sunguh-sungguh dan tak mengenal kata bosan.

Berikut istri dan putra putri beliau:

* Ibu Nyai Hj. Masthi'ah (Istri)
* KH. Abdullah Ubab Maimoen (Putra Pertama)
* KH. Muhammad Najih Maemoen (Putra Kedua)
* KH. Majid Kamil Maimoen (Putra Keempat)
* KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA (Putra Kelima)
* KH. Abdur Rouf Maimoen (Putra Keenam)
* KH. Muhammad Wafi Maimoen (Putra Ketujuh)
Acara Di:Ponpes Al-Masyuri Ngabean Purwodadi

Minggu, 06 Februari 2011

Cerita Dari Lagu "YA KARIM"

Oleh:Labib almusawa

Cerita Dari Lagu "YA KARIM"

Diriwayatkan ketika Rasulallah saw sedang bertowaf, beliau mendengar seorang A’rabi (Arab Badui dari gunung) berkata dengan suara keras “Ya Kariim”. Rasulallah saw pun mengikutinya dari belakang dan berkata “Ya Kariim”. Kemudian A’rabi itu berjalan menuju ke arah pancuran Kab’ah lalu berkata lagi dengan suara lebih keras “Ya Kariiim”. Rasulallah saw pun mengikutinya dari belakang, juga berkata “Ya Karim”. Berasa ada yang mengikutinya dari belakang, A’rabi tadi menengok ke arah suara, lalu berkata,
“Apa maksudmu mengikuti perkataanku?. Apakah kau sengaja mengejekku karena aku seorang A’rabi, Arab Badui dari gunung?. Demi Allah, kalau bukan karena wajahmu yang bersinar dan parasmu yang indah maka aku akan adukan hal ini kepada kekasihku Muhammad, Rasulallah saw.”
Rasulallah saw pun tersenyum lebar mendengar uraian A’rabi tadi, lalu berkata,
“Wahai saudaraku, apakah kau pernah melihat Rasulallah?”
A’rabi tadi berkata,
“Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”
Rasulallah saw lalu berkata lagi,
“Apakah kamu beriman kepadanya?”
“Demi Allah, aku beriman kepadanya walaupun aku belum pernah melihat wajahnya, dan percaya dengan risalahnya walaupun aku belum pernah bertemu muka dengannnya,”  tegasnya.
Lalu Rasulallah saw berkata,
“Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya aku adalah Nabimu di dunia dan pemberi syafa’at bagimu di Akhirat.”
Begitu A’rabi tadi mengetahui bahwa beliau adalah Rasulallah saw, dengan sepontan ia menarik tangan beliau lalu menciumya berkali kali. Walaupun Rasulallah saw berusaha menarik tangan beliau, tapi A’rabi tadi tetap memegangnya dengan keras dan menciumnya. Lalu dengan penuh tawadhu’ beliau menahan lagi tangannya sambil menariknya, seraya berkata,
“Perlahan-lahan wahai saudaraku, sesungguhnya aku diutus sebagai Nabi bukan sebagai raja, aku diutus sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, bukan perkasa dan penyombong”
Seketika itu juga malaikat Jibril as turun dari langit kepada Rasulallah saw lalu berkata,
“Allah mengucapkan salam kepadamu, dan mengkhususkan tahiyyatNya atasmu. Dia berfirman, ‘Katakanlah kepada A’rabi janganlah merasa bangga dengan amal kebaikanya, sesungguhnya esok Kami akan menghisab amalnya yang kecil sebelum yang besar, bahkan sampai yang sekecil kecilnya tidak akan diluputkan.’ “
Lalu Rasulallah saw menyampaikan pesan Allah kepada A’rabi tadi. A’rabi pun berkata,
“Apakah Allah akan menghisabku kelak, ya Rasulallah?”
Rasulallah saw berkata,
“Iya betul, dengan kehendakNya, Allah akan menghisabmu kelak”
A’rabi tadi lalu berkata lagi,
“Jika Allah akan menghisabku esok, maka akupun akan menghisabNya kelak” 
Rasulallah saw merasa heran mendengar jawaban A’rabi tadi, lalu berkata
“Wahai saudaraku, bagaimana caranya kamu akan menghisab Allah kelak?”
Dengan lantang dan penuh keyakinan A’rabi tadi berkata,
“Jika Allah akan menghisabku atas dosa-dosa yang aku lakukan, maka aku akan menghisabNya atas ampunanNya yang maha luas. Jika Dia akan menghisabku dengan maksiat yang aku perbuat, maka aku akan menghisabNya atas maghfirahNya yang tidak terbatas. Jika Dia akan menghisabku atas kekikiranku maka aku akan menghisabNya atas kemurahanNya yang tanpa batas”.
Mendengar uraian A’rabi tadi, Rasulallah saw menangis tersedu-sedu sehingga jenggot beliau basah dengan airmata. Tangisan Rasulallah saw didengar oleh malaikat Jibril as yang membuatnya turun lagi dari langit, lalu berkata kepada beliau,
“Wahai Rasulallah, janganlah kamu menangis, sesungguhnya Arsy dan seisi-isinya bergetar mendengar tangisamu.Katakanlah kepada saudaramu A’rabi sesungguhnya Allah tidak akan menghisabnya dan ia tidak usah menghisabNya. Katakanlah bahwa ia akan menjadi temanmu nanti di surga”
Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sifat tawadhu’ dan sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang rendah dan yang di bawah. Biarpun kita memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat, semua itu tak berarti sedikit pun jika tak memiliki sifat perhatian kepada yang rendah dan yang di bawah. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Rasulallah saw yang selalu tawadhu’, sederhana, dan menghormati semua kelompok manusia tidak perduli apapun kedudukanya. 
“Allahumma shalli a’la sayyidina Muhammad wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim”
Wallahu a’lam

Senin, 31 Januari 2011

Maulid Di Pp.almasyhuri Purwodadi

(12 MAULUD 1432H) BERSAMA HABIB YECH AA DI:P.P.ALMASHURI PURWODADI



Tempat:PP. AL MASYHURI (200 M Timur Alun Alun Kota Purwodadi)
              Jl.TRIKORA 20 NGABEAN PURWODADI
              Grobogan, Indonesia
Waktu  :15 Februari · 20:00 - 23:00
Info   :* ACARA SETIAP TAHUNAN YANG BERTEPATAN DENGAN:
              - HARI KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM.

             * DILAKSANAKAN SETIAP TANGGAL:
              - 12 MALAM 13 MAULUD TAHUN HIJRIYYAH.

            * DALAM PERINGATAN :
             - MULID NABI MUHAMMAD Shollallohu 'alaihi wa sallam.
             - Haul KH. MUHAMMAD MANSHUR (Popongan) ,
             - Haul KH. MASYHURI (Pendiri PP.Al Masyhuri) serta Masyayikh
             - Khotmil Qur'an & Wisuda Santri PP. Al Masyhuri.

          * PELAKSANAAN 15 MALAM 16 FEBRUARI 2011 M (SELASA MALAM RABU).
             INSYAALLOH AKAN DI BAROKAHI, OLEH:
           - ROMO KH.MUHAMMAD SALMAN DAHLAWI (Popongan Klaten).
           - GURU MULIA AL HABIB SYEKH BIN ABDUL QADIR ASSEGAF (Solo).

         * TEMPAT :
           - Halaman PP AL MASYHURI Ngabean Purwodadi Grobogan.
           - (200 M timur Pendopo Kab.Grobogan).